Bernama
lengkap Everett M. Rogers, pria ini dilahirkan di Carroll, Iowa pada tanggal 6
Maret 1931. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga pemilik Pinehurst Farm.
Awalnya Rogers tidak memiliki ide untuk mengambil kuliah hingga gurunya
mengarahkannya beserta beberapa teman-teman sekelasnya untuk mengambil
Agriculture untuk S1 dan S2-nya di Iowa State University. Selanjutnya ia
sempat menjadi suka relawan di perang Korea selama 2 tahun. Sepulangnya dari
perang itu Rogers kembali lagi ke Iowa State University untuk mendapatkan gelar
PhD di bidang sosiologi dan statistik pada tahun 1957.
Sejarah
teori :
Pada tahun
1950-an, Iowa State University menghasilkan banyak lulusan besar di bidang
pertanian dan khususnya masalah sosiologi pedesaan. Banyak sekali inovasi
pertanian yang dihasilkan seperti benih jagung hybrid, pupuk kimiawi, dan
semprotan untuk rumput liar. Namun tidak semua petani mengadopsi beberapa
inovasi tersebut, hanya ada beberapa petani saja yang mengadopsinya setelah
inovasi tersebut berhasil dilakukan oleh beberapa petani barulah inovasi
tersebut menyebar secara perlahan-lahan. Hal inilah yang menjadi pertanyaan
besar bagi Rogers hingga akhirnya menjadi inti dari disertasi Rogers di Iowa
State University. Disertasinya berupa penyebaran atau difusi weed spray, ia juga melakukan wawancara
langsung terhadap 200 petani tentang keputusannya untuk keputusan mereka
mengadopsi inovasi tersebut. Selain itu Rogers juga memelajari bagaimana difusi
inovasi dari bidang-bidang lain, misalnya pada bidang pendidikan, marketing,
dan obat-obatan. Ia menemukan banyak kesamaan dalam beberapa bidang tersebut.
Hasilnya merujuk kepada S-shaped
Diffusion Curve yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog Prancis bernama
Gabriel Tarde pada awal abad ke-20.
Kurva ini
pada dasarnya menggambarkan bagaimana suatu inovasi diadopsi seseorang atau
sekolompok orang dilihat dari dimensi waktu. Pada kurva ini ada dua sumbu
dimana sumbu yang satu menggambarkan tingkat adopsi dan sumbu yang lainnya
menggambarkan dimensi waktu.
Rogers
(1983) mengatakan, “Tarde’s S-shaped
diffusion curve is of current importance because “most innovations have an
S-shaped rate of adoption”. Dan sejak saat itu tingkat adopsi atau tingkat
difusi menjadi fokus kajian penting dalam penelitian-penelitian sosiologi.
Perkembangan
berikutnya dari teori Difusi Inovasi terjadi pada tahun 1960, di mana studi
atau penelitian difusi mulai dikaitkan dengan berbagai topik yang lebih
kontemporer, seperti dengan bidang pemasaran, budaya, dan sebagainya. Melalui
bukunya yang berjudul Diffusion of Innovation yang kini menjadi buku legendaris,
Rogers menjelaskan hasil risetnya tentang difusi atau penyebaran inovasi dalam
suatu sistem sosial dan pengaplikasiannya di berbagai bidang. Hal ini yang
membantu beberapa negara di daerah Asia, Africa, dan Amerika Latin untuk
menyebarkan inovasi dalam bidang pertanian, family planning, dan beberapa
perubahan sosial lainnya. Hingga mereka menjadi negara yang mandiri.
Esensi Teori
Di dalam buku
Diffusion of Innovation, Everett M. Rogers mendefinisikan difusi inovasi adalah
”proses sosial yang mengomunikasikan
informasi tentang ide baru yang dipandang secara subjektif. Makna inovasi
dengan demikian perlahan-lahan dikembangkan melalui sebuah proses konstruksi
sosial.”
”inovasi yang dipandang oleh penerima sebagai
inovasi yang mempunyai manfaat relatif, kesesuaian, kemampuan untuk dicoba,
kemampuan dapat dilihat yang jauh lebih besar, dan tingkat kerumitan yang lebih
rendahakan lebih cepat diadopsi daripada inovasi-inovasi lainnya.”
Difusi merupakan suatu jenis khusus komunikasi yang
berkaitan dengan penyebaran pesan-pesan sebagai ide baru. Komunikasi
didefinisikan sebagai proses dimana para pelakunya menciptakan informasi dan
saling bertukar informasi untuk mencapai pengertian bersama. Di dalam pesan itu
terdapat ketermasaan (newness) yang
memberikan ciri khusus kepada difusi yang menyangkut ketakpastian (uncertainty).
Asumsi utama yang dapat disimpulkan dari teori ini
adalah:
1. Difusi inovasi adalah proses sosial yang
mengomunikasikan informasi tentang ide baru yang dipandang secara subjektif.
Makna inovasi dengan demikian perlahan-lahan dikembangkan melalui sebuah proses
konstruksi sosial
2. Inovasi yang dipandang oleh penerima sebagai inovasi
yang mempunyai manfaat relatif, kesesuaian, kemampuan untuk dicoba, kemampuan
dapat dilihat yang jauh lebih besar, dan tingkat kerumitan yang lebih rendah
akan lebih cepat diadopsi daripada inovasi-inovasi lainnya
3. Ada sedikitnya 5 tahapan dalam difusi inovasi yakni,
tahap pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi
4. Ada 5 tipe masyarakat dalam mengadopsi inovasi yakni inovator, early adopter, early majority,
late majority, dan laggard.
Proses Difusi
Inovasi
1. Tahap Pengetahuan (Knowledge)
Ada beberapa
sumber yang menyebutkan tahap pengetahuan sebagai tahap “Awareness”. Tahap ini merupakan tahap penyebaran informasi tentang inovasi baru, dan
saluran yang paling efektif untuk digunakan adalah saluran media massa. Dalam tahap
ini kesadaran individu akan mencari atau membentuk
pengertian inovasi dan tentang bagaimana inovasi tersebut berfungsi. Rogers
mengatakan ada tiga macam pengetahuan yang dicari masyarakat dalam tahapan ini,
yakni:
·
Kesadaran bahwa inovasi itu ada
·
Pengetahuan akan penggunaan inovasi tersebut
·
Pengetahuan yang mendasari bagaimana fungsi inovasi tersebut bekerja
2.
Tahap Persuasi (Persuasion)
Dalam
tahapan ini individu membentuk sikap atau memiliki sifat yang menyetujui atau
tidak menyetujui inovasi tersebut. Dalam tahap persuasi ini, individu akan
mencari tahu lebih dalam informasi tentang inovasi baru tersebut dan keuntungan
menggunakan informasi tersebut. Yang membuat tahapan ini berbeda dengan tahapa
pengetahuan adalah pada tahap pengetahuan yang berlangsung adalah proses
memengaruhi kognitif, sedangkan pada tahap persuasi, aktifitas mental yang
terjadi alah memengaruhi afektif. Pada tahapan ini seorang calon adopter akan lebih terlibat secara
psikologis dengan inovasi. Kepribadian dan norma-norma sosial yang dimiliki
calon adopter ini akan menentukan
bagaimana ia mencari informasi, bentuk pesan yang bagaimana yang akan ia terima
dan yang tidak, dan bagaimana cara ia menafsirkan makna pesan yang ia terima
berkenaan dengan informasi tersebut. Sehingga pada tahapan ini seorang calon adopter akan membentuk persepsi umumnya
tentang inovasi tersebut. Beberapa ciri-ciri inovasi yang biasanya dicari pada
tahapan ini adalah karekateristik inovasi yakni relative advantage, compatibility,
complexity, trialability, dan observability.
3.
Tahap Pengambilan Keputusan (Decision)
Di tahapan
ini individu terlibat dalam aktivitas yang membawa pada suatu pilihan untuk
mengadopsi inovasi tersebut atau tidak sama sekali. Adopsi adalah keputusan
untuk menggunakan sepenuhnya ide baru sebagai cara tindak yang paling baik. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi proses keputusan
inovasi, yakni:
·
Praktik sebelumnya
·
Perasaan akan kebutuhan
·
Keinovatifan
·
Norma dalam sistem sosial
Proses keputusan
inovasi memiliki beberapa tipe yakni:
a) Otoritas adalah keputusan yang
dipaksakan kepada seseorang oleh individu yang berada dalam posisi atasan
b) Individual adalah keputusan
dimana individu yang bersangkutan mengambil peranan dalam pembuatannya.
Keputusan individual terbagi menjadi dua macam, yakni:
1. Keputusan opsional adalah
keputusan yang dibuat oleh seseorang, terlepas dari keputusan yang dibuat oleh
anggota sistem.
2. Keputusan kolektif adalah
keputusan dibuat oleh individu melalui konsesnsus dari sebuah sistem sosial
c) Kontingen adalah keputusan untuk
menerima atau menolak inovasi setelah ada keputusan yang mendahuluinya.
4.
Tahap Pelaksanaan (Implementation)
Tahapan ini
hanya akan ada jika pada tahap sebelumnya, individu atau partisipan memilih
untuk mengadopsi inovasi baru tersebut. Dalam tahap ini, individu akan
menggunakan inovasi tersebut. Jika ditahapan sebelumnya proses yang terjadi
lebih kepada mental exercise yakni
berpikir dan memutuskan, dalam tahap pelaksanaan ini proses yang terjadi
lebih ke arah perubahan tingkah laku sebagai bentuk dari penggunaan ide baru
tersebut.
5.
Tahap Konfirmasi (Confirmation)
Tahap
terakhir ini adalah tahapan dimana individu akan mengevaluasi dan memutuskan
untuk terus menggunakan inovasi baru tersebut atau menyudahinya. Selain itu,
individu akan mencari penguatan atas keputusan yang telah ia ambil sebelumnya.
Apabila, individu tersebut menghentikan penggunaan inovasi tersebut hal
tersebut dikarenakan oleh hal yang disebut disenchantment
discontinuance dan atau replacement discontinuance. Disenchantment
discontinuance disebabkan oleh
ketidakpuasan individu terhadap inovasi tersebut sedangkan replacement discontinuance
disebabkan oleh adanya inovasi lain yang lebih baik.
Lebih lanjut teori yang
dikemukakan Rogers (1995) memiliki relevansi dan argumen yang cukup signifikan
dalam proses pengambilan keputusan inovasi. Teori tersebut antara lain
menggambarkan tentang variabel yang berpengaruh terhadap tingkat adopsi suatu
inovasi serta tahapan dari proses pengambilan keputusan inovasi. Variabel yang
berpengaruh terhadap tahapan difusi inovasi tersebut mencakup (1) atribut
inovasi (perceived atrribute of innovasion), (2) jenis keputusan inovasi (type
of innovation decisions), (3) saluran komunikasi (communication channels), (4)
kondisi sistem sosial (nature of social system), dan (5) peran agen perubah
(change agents).
Contoh penerapannya
Contoh yang fenomenal adalah keberhasilan Pemerintah Orde Baru dalam melaksanakan program Keluarga Berencana (KB). Dalam program tersebut, suatu inovasi yang bernama Keluarga Berencana, dikomunikasikan melalui berbagai saluran komunikasi baik saluran interpersonal maupun saluran komunikasi yang berupa media massa, kepada suatu sistem sosial yaitu seluruh masyarakat Indonesia. Dan itu terjadi dalam kurun waktu tertentu agar inovasi yang bernama Keluarga Berencana Tersebut dapat dimengerti, dipahami, diterima, dan diimplementasikan (diadopsi) oleh masyarakat Indonesia. Program Keluarga Berencana di Indonesia dilaksanakan dengan menerapkan prinsip difusi inovasi. Ini adalah contoh difusi inovasi, dimana inovasinya adalah suatu ide atau program kegiatan, bukan produk.
Contoh penerapannya
Contoh yang fenomenal adalah keberhasilan Pemerintah Orde Baru dalam melaksanakan program Keluarga Berencana (KB). Dalam program tersebut, suatu inovasi yang bernama Keluarga Berencana, dikomunikasikan melalui berbagai saluran komunikasi baik saluran interpersonal maupun saluran komunikasi yang berupa media massa, kepada suatu sistem sosial yaitu seluruh masyarakat Indonesia. Dan itu terjadi dalam kurun waktu tertentu agar inovasi yang bernama Keluarga Berencana Tersebut dapat dimengerti, dipahami, diterima, dan diimplementasikan (diadopsi) oleh masyarakat Indonesia. Program Keluarga Berencana di Indonesia dilaksanakan dengan menerapkan prinsip difusi inovasi. Ini adalah contoh difusi inovasi, dimana inovasinya adalah suatu ide atau program kegiatan, bukan produk.